Dark
Light
Dark
Light

Berkah Cuan Durian Ramai-ramai Naik Haji

Berkah Cuan Durian Ramai-ramai Naik Haji

Arina.id ~ Sembilan wajah itu tetap berseri. Senyumnya mengembang penuh arti. Merekalah sembilan warga Dusun Ndirun Desa Singamerta Kecamatan Sigaluh Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang akan bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji 1445 Hijriyah. Di hadapan warga, mereka berpamitan secara seremonial dengan menggelar pengajian Walimassafar lil Hajj di Halaman Masjid Daarunnajah dusun setempat, Minggu, 5 Mei 2024.

Sembilan calon haji dari Dusun Ndirun itu adalah pasangan Mardi–Misem, Suratman–Minem, Sadi-Ibu Surip, Nipan Abdul Halim-Sri Notimah, dan Yanto Bin Suwartono. Semula, ada sepuluh warga dusun ini yang berangkat haji, yang merupakan lima pasangan bahagia. Namun takdir berkehendak lain. Istri Yanto, telah berpulang ke ke Rahmatullah beberapa waktu lalu.

Pada pengajian Walimassafar itu, Kiai Nipan Abdul Halim mewakili sembilan calon jemaah haji mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, kerabat, serta sahabat yang hadir untuk mendoakan mereka. Menurutnya, kehadiran warga memberikan semangat dan kekuatan kepada mereka yang akan berangkat melaksanakan rukun Islam kelima, yaitu ibadah haji ke tanah suci Makkah.

"Kami juga mohon doa restu agar mendapat kemudahan dan kelancaran dari Allah Swt dalam melaksanakan ibadah. Mohon maaf apabila ada kesalahan kami baik tindakan dan ucapan. Manusia tempat salah dan dosa. Dengan mengakui kesalahan dan saling memaafkan satu sama lain, semoga akan meringankan langkah kami,” ungkap Kiai Nipan.

Sukses bertani durian mengantarkan haji
Haji adalah ibadah yang istimewa. Bagi umat Islam yang berada jauh dari Makkah seperti orang Indonesia, perjalanannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Lantas siapakah kesembilan warga Dusun Ndirun yang mampu berhaji tahun ini? Ternyata hanya Kiai Nipan yang berlatar belakang pegawai atau pensiunan Kementerian Agama. Selebihnya adalah petani, terutama durian sebagai produk unggulan dari Dusun Ndirun. 

Dusun Dirun Banjarnegara memang dikenal sebagai surganya durian. Di sini terdapat kebun durian seluas 114 hektar dengan berbagai varietas unggulan seperti Sikirik, Simimang, Bodong, Bawor, Ketan, Podang, Musangking, Duri Hitam, Masmuar, Super Tembaga dan banyak lagi lainnya. Maka mayoritas warganya mantap bertani, terutama petani durian.

Seperti Yanto Pak Bin Suwartono (52 tahun), petani durian yang tahun ini berangkat haji. Keluarga Yanto dikenal sebagai petani yang ulet dan gigih. Ketika ditemui di rumahnya, pria yang selalu tampak bersemangat ini ini baru selesai menerima tetamu yang ingin mendoakannya. 

Ikhtiar Pak Yanto sehingga mampu berhaji adalah dengan rajin bersedekah serta menyisihkan sebagian hasil bertani untuk ditabung dan digunakan mendaftar haji.

"Hasil tani saya tabung. Sedikit demi sedikit. Setelah cukup saya gunakan untuk ndaftar haji," terangnya.

Sebelumnya, Yanto pernah menunaikan umrah dua kali. Diakuinya, penghasilan dari bertani durian sangat membantu. Namun begitu dia menolak menyebutkan berapa luas lahan dan jumlah pohon durian yang dimilikinya. Meski dari tetangga tersampai kabar, bahwa sepohon durian berjenis Bodong atau Duri Hitam milik Yanto bisa memberangkatkan umroh Yanto dan kedua orang tuanya tahun lalu.

"Semua hanya titipan Allah. Saya hanya mengemban amanat untuk merawatnya," kilahnya merendah.

Namun begitu, Pak Yanto membagikan amalan rahasianya agar cepat berangkat haji maupun umroh. Menurutya, dalam bertani atau berusaha apa pun, harus mengedepankan niat ibadah dan berusaha. Bertani durian juga merupakan ibadah. Menyediakan kebutuhan pangan yang dibutuhkan manusia.

"Dalam beramal ibadah harus ikhlas sehingga barakah dan diridhai Allah. Kuncinya, sering tahajud dan sedekah subuh. Jika mau bekerja siapkanlah sedekah terbaik dahulu, ini sebagai niat kebajikan yang bisa memancing pahala yang berkah," ungkap pria sederhana yang masuk di kloter 15 Banjarnegara. 

Yanto mendaftar haji pada 2013, waktu itu bersama sang istri Muryati. Namun, Allah berkehendak lain. Muryati wafat beberapa waktu lalu sehingga harus badal haji. Dia dan rombongan akan berangkat 14 Mei 2024 dini hari melalui Embarkasi Donohudan Solo.

Ndirun Kampung Durian
Dusun Ndirun sudah dikenal sebagai kampung durian. Warga Ndirun secara turun temurun telah menguasai teknik bertani durian. Sebagian besar lahan warga dipenuhi dengan pohon-pohon berduri itu. Namun, bertani durian tidak bisa sembarangan. 

Selain Pak Yanto, calon haji yang hendak berangkat adalah Sugiono Suratman, yang juga dikenal sebagai petani sukses. Sama seperti Yanto, Sugiono Suratman mendapatkan ilmu bertani durian dari orang tuanya, dari tokoh desa dan penyuluh pertainian. Agar bisa panennya maksimal, telah disiapkan dengan saksama sejak pembibitan, lahan, teknik atau cara penanaman yang benar, penyiraman, penyiangan, pemupukan serta pengendalian hama.

"Dengan ketekunan dan kegembiraan dalam bertani, kami warga Ndirun bisa memetik hasil dari budi daya durian ini. Dan alhamdulillah, berkat durian kami dan warga desa bisa berangkat haji," ungkapnya penuh syukur.

Tak kalah penting dalam usaha apa pun adalah marketing atau pemasaran. Untuk hal ini, pemuda Ndirun bernama Eko Waluyo banyak membantu. Eko bersama pemuda setempat sukses memprakarsai ‘Festival Durian Ndirun’ yang telah kesohor hingga luar daerah yang telah digelar lima kali sejak tahun 2012. Bahkan, lantaran festival ini, dia lebih dikenal sebagai ‘Eko Ndirun’ oleh para pecinta durian baik dari Banjarnegara maupun luar daerah. Festival Durian Ndirun juga menjadi agenda wisata tahunan yang didukung penuh oleh pemerintah setempat.

Pada musim durian tahun lalu, durian lokal dari Ndirun dijual dengan harga bervariasi antara Rp20 ribu hingga Rp150 ribu. Durian jenis tertentu seperti Durian Bodong milik Pak Yanto, bisa laku antara Rp150 ribu hingga Rp400 ribu per buah. Sementara jenis Montong atau Sikirik yang jadi andalan Eko, bisa dimahar Rp35 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram. Para pecinta durian Ndirun berasal dari berbagai penjuru kota seperti: Jakarta, Bandung dan Bali.

KH Muhammad Chamzah Hasan, Pengasuh Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara yang juga pendamping haji senior mengungkapkan, kewajiban menjalankan ibadah haji hanya sekali seumur hidup. Selebihnya tidak wajib. Ibadah haji kemanfaatannya lebih banyak untuk diri sendiri daripada untuk orang banyak. Misalnya, dengan berhaji seseorang dapat mencapai kesalehan personalnya karena berarti telah melaksanakan salah satu perintah-Nya. 

Menunaikan ibadah haji hendaknya tidak ditunda-tunda sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi kita akan sakit atau malah mengalami kemunduran secara ekonomi, atau malah sudah meninggal dunia. Hal-hal seperti ini bisa menghilangkan kesempatan ibadah haji yang sebenarnya sudah ada di tangan. Hilangnya kesempatan itu tidak berarti Allah Swt belum memanggil kita. 

Dengan diwajibkannya menunaikan ibadah haji sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an dan Hadits, sesungguhnya setiap orang sudah dipanggil Allah Swt untuk menunaikan ibadah tersebut. Tentu saja bagi mereka yang memang sudah mampu hendaknya segera memenuhi panggilan itu sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

 مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيْضُ وَتَضِلُّ الضَالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

Artinya: 
Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi.”

Selamat kepada warga Dusun Ndirun yang akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Semoga diberikan kesehatan dan kelancaran sehingga dapat kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur dan mabrurah.

Home 1 Banner

Tren Lainnya

Home 2 Banner