Dark
Light
Dark
Light

7 Sunnah Haji yang Sayang untuk Dilewatkan Jemaah

7 Sunnah Haji yang Sayang untuk Dilewatkan Jemaah

Saat melaksanakan ibadah haji, selain menjalankan rangkaian rukun dan wajib haji, terdapat sejumlah amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk menambah pahala di Tanah Suci. Syekh Muhammad Qasim al-Ghazi dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazi at Taqrib, halaman 149 menjelaskan bahwa ada 7 sunnah haji yang bisa diamalkan para jemaah saat melaksanakan haji. 

Pertama, Ifrad

Secara pengertian haji ifrad berarti mendahulukan pelaksanaan ibadah haji sebelum umrah. Jamaah yang memilih cara ini akan berihram haji dari miqatnya, kemudian melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji hingga selesai. Setelah itu, barulah mereka keluar dari Makkah menuju tanah halal terdekat dan berihram umrah untuk melaksanakan amalan-amalannya.

Perlu diingat bahwa urutan pelaksanaan ini tidak boleh dibalik. Jika jamaah melaksanakan umrah terlebih dahulu sebelum haji, maka ia tidak dianggap melakukan haji ifrad. Hal ini dikarenakan haji ifrad memiliki makna memisahkan pelaksanaan haji dan umrah secara tegas, dengan mendahulukan haji sebagai ibadah utama.

أحدها (الإفراد، وهو تقديم الحج على العمرة)، بأن يُحرِم أولاً بالحج من ميقاته ويفرغ منه، ثم يخرج عن مكة إلى أدنى الحِلِّ فيُحرِم بالعمرة، ويأتي بعملها؛ ولو عكس لم يكن مُفرِدًا.

Artinya: "Salah satunya [sunnah haji] (ifrad, yaitu mendahulukan haji daripada umrah) adalah dengan berniat haji terlebih dahulu dari miqatnya dan menyelesaikannya, kemudian keluar dari Mekah ke tempat terdekat di luar Tanah Haram untuk berniat umrah, dan melaksanakan amalan umrah. Jika dilakukan sebaliknya, maka tidak disebut ifrad." [Muhammad Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazi at Taqrib, [Beirut: Darul Ibnu Hazam li Tabaah wa Nasyir wa At-Tauzi’, 2005] halaman 149].

Kedua, Membaca Talbiyah  

Ini merupakan salah satu sunnah dalam pelaksanaan haji. Disunnahkan untuk memperbanyak membaca talbiyah selama menjalankan ihram. Bagi laki-laki, dianjurkan untuk mengeraskan suara saat membaca talbiyah. Lafal talbiyah adalah:

 “لَبَّيْكَ اللهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ”

Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Setelah selesai membaca talbiyah, disarankan untuk membaca shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw. Selain itu, jemaah juga dianjurkan untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi surga dan keridhaan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari api neraka. Melalui doa-doa ini, diharapkan setiap jemaah dapat meraih keberkahan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji.

Ketiga, Thawaf Qudum

Thawaf ini dikhususkan bagi para jemaah haji yang memasuki kota Makkah sebelum melaksanakan wukuf di Arafah. Bagi jemaah yang melaksanakan haji ifrad atau qiran, thawaf Qudum disunnahkan untuk dilakukan di hari pertama kedatangan mereka di Makkah

(طواف القدوم). ويختص بحاجٍّ دخل مكة قبل الوقوف بعرفة. والمعتمر إذا طاف العمرة أجزأه عن طواف القدوم.

Artinya: “Thawaf Qudum dikhususkan bagi orang haji yang masuk Makkah sebelum melaksanakan wukuf di Arafah. Sedangkan bagi orang yang melaksanakan umrah, ketika ia melaksanakan thawaf umrah, maka sudah mencukupi dari thawaf Qudum.” [Muhammad Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazi at Taqrib, [Beirut: Darul Ibnu Hazam li Tabaah wa Nasyir wa At-Tauzi’, 2005] halaman 150].

Keempat dan Kelima, Mabit di Muzdalifah dan Mina.

Terkait mabit di Muzdalifah dan Mina ulama berbeda pendapat perihal mabit di Muzadalifah. Sebagian ulama berpendapat, mabit di Muzdalifah termasuk rukun haji. Sementara menurut Imam Nawawi dalam kitab Raudhah dan Majmu’ Syarah al Muhadzab berpendapat bahwa mabit di Muzdalifah dan Mina termasuk wajib haji. Sedangkan ulama lain, Imam Rafi’i berpendapat, mabit di Muzdalifah dan Mina adalah bagian dari sunnah haji.  

[هذا المبيت نُسُكٌ بالإجماع، لكن هو واجب أو سُنة؟ فيه قولان مشهوران ذكرهما المصنف بدليلهما.. والثاني: سُنَّةٌ. وحكى الرافعي فيه ثلاثة طرق؛ (أصحها) قولان كما ذكرنا، (والثاني) القطع بالإيجاب، (والثالث) بالاستحباب، فإن تركه أراق دمًا. فإن قلنا: المبيت واجب؛ فالدم لتركه واجب، وإلا فَسُنَّة، وعلى القولين؛ ليس بركنٍ، فلو تركه صَحَّ حجه. هذا هو الصحيح المشهور الذي نَصَّ عليه الشافعي، وقطع به جمهور الأصحاب وجماهير العلماء

Artinya: “Mabit (bermalam di Mina) adalah bagian dari ibadah haji yang disepakati oleh semua ulama. Namun, apakah mabit itu wajib atau sunnah? Ada dua pendapat terkenal yang dikemukakan oleh ulama dengan dalilnya masing-masing. Pendapat pertama: Mabit itu wajib. Sementara pendapat kedua: Mabit itu sunnah. Imam Al-Rafi’i menyebutkan tiga pendapat tentang mabit: 1). Pendapat yang paling sahih adalah dua pendapat seperti yang telah disebutkan (wajib dan sunnah). 2). Pendapat kedua: Mabit itu wajib secara mutlak. 3). Pendapat ketiga: Mabit itu mustahab (dianjurkan), dan jika ditinggalkan, pelakunya harus membayar denda (dam). Jika kita katakan bahwa mabit itu wajib, maka denda (dam) wajib dibayarkan jika ditinggalkan. Dan jika mabit itu sunnah, maka denda (dam) tidak wajib. Pada kedua pendapat tersebut, mabit bukan rukun haji, sehingga jika ditinggalkan, hajinya tetap sah. Ini adalah pendapat yang benar dan terkenal yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i dan disepakati oleh mayoritas ulama”. [Imam Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzab, Jilid VIII, [Jeddah: Maktabah Irsyad, tt] halaman 152]. 

Pendapat yang menyatakan bahwa mabit di Muzdalifah dan Mina hanya sunnah dalam rangkaian ibadah haji dapat dianggap lemah karena bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat dan praktik Nabi Muhammad saw. Menurut pandangan yang lebih luas dan mendalam dalam fiqh, mabit di Muzdalifah memiliki landasan yang kuat sebagai kewajiban. Hal ini didasarkan pada perintah langsung dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 198, yang mengindikasikan perintah untuk mengingat Allah di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. 

Selain itu, hadits-hadits sahih juga menguatkan kewajiban mabit di Muzdalifah, di mana Nabi Muhammad saw dan para sahabat selalu mengamalkan mabit di Muzdalifah dan tidak ada riwayat yang menunjukkan beliau meninggalkannya kecuali dengan uzur yang jelas. Lebih lanjut, para ulama mazhab yang mayoritas seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad mengkategorikan mabit di Muzdalifah sebagai wajib, dengan konsekuensi dam bagi yang meninggalkannya tanpa uzur. 

Menurut Syekh Syamsuddin Khatib Asy-Syarbini alam kitab al-Iqna’ Jilid I, halaman 257 menjelaskan bahwa hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib, jika ditinggalkan wajib dam;

المبيت بمزدلفة: فإنه واجب على الأصح، ويجبر تركه بدم

Artinya: "Mabit di Muzdalifah: menurut pendapat yang paling sahih, mabit di Muzdalifah adalah wajib. Meninggalkan mabit di Muzdalifah wajib bayar dengan dam (denda berupa hewan kurban)." [Syamsuddin Khatib Asy-Syarbini, al-Iqna’ Jilid I, halaman 257].

Demikian juga dengan bermalam di Mina, ulama mengatakan bahwa itu bagian dari wajib haji. Simak pendapat Ibnu Qudamah berikut;

والمبيت بمنى في لياليها واجب في إحدى الروايتين عن أحمد وهو ظاهر كلام الخرقي. روي ذلك عن ابن عباس وهو قول عروة ومجاهد وإبراهيم وعطاء وروي عن عمر بن الخطاب وبه قال مالك والشافعي

Artinya: “Mabit di Mina pada malam-malamnya adalah bagian dari wajib haji menurut salah satu dari dua riwayat dari Ahmad, yang tampak dari perkataan Al-Khirqi, diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan ini adalah pendapat ‘Urwah, Mujahid, Ibrahim, Atha’, dan diriwayatkan pula dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dan pendapat  [bermalam di Mina bagian dari wajib haji] merupakan pendapat Malik dan Asy-Syafi’i.” [Abdurrahman Ibnu Qudamah, Syarh al-Kabir, Jilid IX, halaman 236.

Keenam, Shalat sunnah tawaf dua rakat

Setelah menyelesaikan tawaf, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah tawaf sebanyak dua rakaat. Shalat ini idealnya dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, namun jika tidak memungkinkan, bisa dilakukan di Hijir Ismail, di dalam Masjidil Haram, atau di tempat lain di tanah haram. Saat siang hari, dianjurkan untuk membaca doa dengan pelan, sedangkan di malam hari boleh dikeraskan:

[ركعتا الطواف سُنَّةٌ على الأصح عندنا] اهـ.

Artinya: “Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan kami, dua raka’at tawaf adalah sunah.” [Imam Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzab, Jilid VIII, [Jeddah: Maktabah Irsyad, tt] halaman 85].

Ketujuh, Tawaf Wada’

Ibadah ini dilakukan ketika hendak keluar dari kota Makkah karena untuk bepergian yang jauh maupun yang dekat. Terkait hukum tawaf wada’ ulama berbeda pendapat. Syekh Ibrahim al-Ghazi mengatakan hukumnya sunnah, akan tetapi ada ulama yang mengatakan thawaf wada’ bagian dari wajib haji. 

Simak penjelasan berikut: 

طواف الوداع : حکمه : ۱ - واجب ، ويجب بتركه دم . وبذلك قال أبو حنيفة ، وأحمد ، والشافعي  ، وجمهور أهل العلم لقوله كما في حديث ابن عباس رضي الله عنهما : ( لا ينفرن أحد حتى يكون آخر عهده بالبيت ، رواه مسلم . والأمر للوجوب ، ولأنه ارخص للحائض ، وأسقطه عنها ، فدل وجوبه على غيرها ، إذ إن الرخصة لا تكون إلا عن واجب . ٢ - سنة ، ولا يجب بتركه شيء . وهو قول مالك ، وداود ، وابن المنذر ، وأحد قولي مجاهد، والشافعي

Artinya: "Thawaf Al-Wada’: Hukumnya: Pertama, Wajib: “Meninggalkannya diwajibkan dengan denda (dam). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Syafi’i (1), dan mayoritas ulama. Pendapat ini didasarkan pada hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Seseorang tidak boleh keluar dari (Masjidil Haram) sampai akhir urusannya dengan Baitullah.” (HR. Muslim). Perintah dalam hadits ini menunjukkan kewajiban, dan karena keringanan diberikan kepada wanita haid dan dihapuskan darinya, maka ini menunjukkan bahwa tawaf al-wada’ wajib bagi selain wanita haid. Keringanan hanya diberikan untuk sesuatu yang wajib. Kedua, sunnah: Meninggalkannya tidak diwajibkan dengan denda. Ini adalah pendapat Malik, Dawud, Ibnu Munzir, salah satu pendapat Mujahid, dan Syafi’i". [Sa’id bin Abdul Qadir, al-Mughni fi Fiqh al-Hajj wal Umrah, [Jeddah: Maktabah Ilmi, 1992] Halaman 172]. 

Home 1 Banner

Syariah Lainnya

Home 2 Banner