Dark
Light
Dark
Light

Inilah 5 Hikmah Disyariatkannya Ibadah Kurban

Inilah 5 Hikmah Disyariatkannya Ibadah Kurban

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban sampai 3 hari berikutnya (hari tasyrik). Tujuan ibadah kurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah karena secara bahasa, kurban berasal dari kata qurban yang artinya adalah dekat.

Jika ditelisik lebih lanjut, ibadah kurban tidak hanya ritual penyembelihan hewan belaka. Di balik pelaksanaan ibadah ini tentu ada hikmah tersendiri yang bisa dipetik pelajarannya oleh umat Islam agar bisa merasa lebih dekat dengan-Nya.

Setidaknya ada 5 hikmah dalam pelaksanaan ibadah kurban, sebagaimana berikut:

1. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim

Sebagaimana diketahui, sejarah kurban bermula ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Pada saat akan dieksekusi, putra tercintanya itu kemudian diganti oleh Allah dengan seekor domba. Nabi Ismail pun akhirnya selamat dan baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.

Dengan demikian, di antara hikmah ibadah kurban adalah menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim yang bergelar Khalilullah (Kekasih Allah). Hal ini ditegaskan dengan firman-Nya dalam Surat An-Nahl ayat 123 sebagaimana berikut:

ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 

Artinya: “Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Qurthubi menyebut sejumlah pendapat para ulama, di antaranya adalah sebagian ulama Syafi‘iyyah yang berpendapat bahwa ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengikuti seluruh ajaran Nabi Ibrahim, kecuali sesuatu yang diperintahkan untuk meninggalkannya. (Imam Al-Qurthubi, Al-Jami'u li Ahkamil Qur'an (Beirut: Muassasah ar-Risalah: 2006) Juz XII, halaman 458)

2. Mengajarkan komunikasi keluarga

Masih berkaitan dengan Nabi Ibrahim, ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya, ia tidak langsung melaksanakan perintah itu. Namun ia berdiskusi terlebih dahulu dengan Ismail dan mendapat persetujuan dari putranya itu. Dengan lemah lembut, Nabi Ibrahim berdiskusi dan meminta pendapat Nabi Ismail.

Diskusi keduanya digambarkan dalam Al-Qur’an Surat As-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ 

Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Dengan demikian, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berkaitan dengan ibadah kurban ini mengajarkan kepada para orang tua, terlebih sosok ayah, agar dapat berkomunikasi dan bermusyawarah dengan keluarga sebelum memutuskan suatu perkara. 

Diskusi dan musyawarah dengan keluarga menjadi penting karena durasi interaksi seseorang lebih banyak dihabiskan dengan keluarga. Konsekuensinya semakin banyak berinteraksi, semakin besar pula potensi munculnya gesekan atau konflik. Maka tidak sedikit masalah keluarga muncul dan tak kunjung selesai akibat anggota keluarga kurang berkomunikasi atau bermusyawarah satu sama lain.

3. Mengajarkan kesabaran

Ibadah kurban juga mengajarkan tentang sabar dan tawakal kepada Allah. Dalam menafsirkan ayat As-Shaffat ayat 102 sebagaimana tercantum pada poin kedua, Imam Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini bukan berarti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sedang bersengkongkol untuk menghindar dari perintah Allah. 

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail justru sedang bermusyawarah tentang perintah ini dan untuk mengetahui sejauh mana kesabarannya atas perintah Allah, atau untuk meyakinkan anaknya agar taat kepada perintah Allah. (Imam Al-Qurthubi, Al-Jami'u li Ahkamil Qur'an, Juz XVIII, halaman 68)

Dengan demikian, adanya ibadah kurban ini mengajarkan kepada umat Islam tentang kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah Allah. Sebelum melakukan eksekusi, keduanya tidak pernah berpikir bahwa Nabi Ismail akan diganti dengan seekor domba, keduanya hanya berpikir dan meyakini bahwa perintah Allah adalah yang terbaik. 

Hal yang sama dialami oleh Nabi Nuh yang tidak berpikir akan datangnya badai dan banjir besar. Ia hanya berpikir melaksanakan perintah Allah agar membuat kapal besar. Begitu pun dengan Nabi Musa yang tidak berpikir lautan akan terbelah, ia hanya berpikir melaksanakan perintah Allah untuk memukul tongkatnya ke laut.

Dengan demikian, ibadah kurban memberi pelajaran bagi umat Islam agar terus istiqamah dan bersabar dalam melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Di balik itu semua, tentu ada kebaikan dan pahala yang akan didapatkan.

4. Melatih kepedulian sosial

Ibadah kurban memiliki hikmah sosial berupa kepedulian atas sesama umat manusia, khususnya umat Islam. Dengan adanya kurban, umat Islam yang mampu secara ekonomi bisa berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dengan cara membagikan daging kurbannya kepada masyarakat.

Kepedulian sosial merupakan akhlak terpuji dan bisa menjadi salah satu prinsip dalam ajaran Islam. Al-Qur'an maupun hadits sudah menjelaskan tentang pentingnya berbagi dan tolong menolong serta punya kepedulian pada sesama. Di antaranya adalah hadits Rasulullah berikut:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Siapa pun yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa pun yang menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa pun yang menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

5. Belajar bersyukur

Nikmat Allah yang diberikan umat manusia sungguh tak terhingga, mulai dari nikmat bernafas, sehat, punya anak saleh, rezeki, termasuk nikmat iman dan Islam serta masih banyak nikmat lain yang tidak bisa terhitung jumlahnya. 

Semua kenikmatan ini tentu patut disyukuri oleh umat Islam. Di antara bentuk syukur atas semua kenikmatan tersebut adalah dengan menyalurkan sebagian rezeki untuk berkurban. 

Dengan demikian, adanya ibadah kurban ini memberikan hikmah dan pelajaran kepada umat Islam, terutama yang memiliki rezeki lebih, untuk selalu bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan yang telah diberikan oleh-Nya. 

Inilah 5 hikmah dalam ibadah kurban yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan 3 hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dengan adanya hikmah-hikmah tersebut diharapkan bisa menjadikan Hari Raya Idul Adha dan ibadah kurban bisa lebih bermakna. Wallahu a’lam.

Home 1 Banner

Syariah Lainnya

Home 2 Banner