Dark
Light
Dark
Light

Ririn dan 3 Jurnalis Melawan Putaran Tawaf: Yang Kami Cari Sudah Tiada

Ririn dan 3 Jurnalis Melawan Putaran Tawaf: Yang Kami Cari Sudah Tiada

Senja selepas shalat Ashar, separuh dari petugas Media Center Haji (MCH) Daker Makkah mendapat arahan untuk berangkat menuju area Masjidil Haram. Mereka harus bergegas karena akan ada rombongan calon jemaah haji yang berniat melaksanakan umrah wajib. 

Sejak awal keberangkatan ke Tanah Suci, tugas MCH tak sekadar memberitakan setiap peristiwa pelaksanaan ibadah haji, tapi mereka harus turut memanggul tanggung jawab memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah asal Indonesia. Tim MCH harus saling membahu dengan petugas-putugas lain di bagian akomodasi, transportasi, perlindungan jemaah (Linjam), termasuk sekretariat dan Bimbingan ibadah. 

Tim MCH menuju Masjidil Haram. Mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok, dan bakal ditempatkan di beberapa pos. Terminal Syib Amir, Bab as Salam, jalur Sa’i, pelataran Ka’bah, dan sebagian berada di pintu keluar Marwah, tepatnya di persimpangan antara terminal Syib Amir dan Jiad.

Pos terakhir ini sangat krusial, terlebih bagi jemaah lansia yang terpisah dari rombongan. Mereka biasanya kebingungan untuk menuju terminal, tempat bus yang mengantar dan menjemput mereka kembali ke pemondokan.

Sigid Kurniawan dari Kantor Berita Antara, masuk ke area pelataran Ka’bah bersama Muhammad Taufik (Tirto), dan Zunus Muhammad (Arina). Ketiga jurnalis ini harus memakai kain ihram dalam mengemban tugas. Pasalnya, otoritas Kerajaan Saudi mewajibkan setiap jemaah laki-laki yang ingin masuk ke area Ka’bah harus mengenakkan dua helai kain putih tersebut. 

Sekitar pukul 17.00 WAS, dua jam sebelum Azan maghrib tiba, kami diminta bersegera menuju pos lain. Ketika berada di area Mataf, kami mendapati petugas perempuan PPHI yang terlihat cemas. Beberapa kali ia berusaha menelpon seseorang. 

Taufik yang berada di depan kami segera menghampiri dan menawarkan bantuan. “Ada yang bisa kami bantu mbak? Kami bertiga juga petugas, dari MCH”. Tawaran Taufik pun disambut antusias. “Kami dapat kabar ada jemaah haji yang pingsan,” ujar petugas yang di bagian emblemnya bertulis Ririn Sulis Setyaningsih. “Ayo, mbak!

Kami pun bergerak dengan cepat, menerobos, dan melawan arus ribuan orang yang sedang Tawaf untuk mencari si jemaah yang pingsan. 

Area Ka’bah telah kami sisir namun, tak juga menemukan. Ririn yang masuk dalam petugas dari Perlindungan Jamaah (Linjam) kembali menghubungi koordinator. Didapatkan informasi bahwa jemaah yang pingsan sudah diangkat ke luar ke area sa’i. Kami pun bergegas, memutar dan menyisir area sa'i, termasuk menaiki eskalator menuju lantai dua. Sayang, pencarian kami tidak berhasil.

Wafat Saat Tawaf

Dua jam berselang, kabar wafat jemaah beredar di Grup WhatsApp Daker Makkah. Jemaah atas nama Enny Rodiyah Solichin asal Tangerang dikabarkan berpulang ke hadirat Allah swt. Enny Rodiyah meninggal setelah sebelumnya pingsan ketika sedang melaksanakan tawaf. Enny adalah jemaah yang selama itu kami cari.

Aryansyah Anda Asmara, kepala rombongan yang kebetulan memimpin Enny Rodiyah dan teman-temannya Tawaf, menceritakan saat itu almarhumah tidak mengeluhkan sakit apa-apa. Sampai di Makkah, Senin, 20 Mei 2024, Enny masih menjalani umrah wajib dan kegiatan City Tour dengan lancar.

Selang tiga hari berikutnya, 23 Mei 2024, mendiang menjalani ibadah umrah sunnah bersama rombongan. Namun baru separuh perjalanan Tawaf pertama, belum sampai selesai, mendiang mengeluh lemas kemudian pingsan. “Tepatnya pas di arah Hijir Ismail," kata Aryansyah menceritakan, Minggu (26/05/2024).

Jemaah lain segera membentuk barikade dibantu askar Masjidil Haram untuk melindungi Enny yang sedang berusaha diselamatkan. Sekitar tiga jemaah dari negara lain yang sedang tawaf yang kebetulan adalah dokter, ikut membantu memberikan resusitasi jantung plus napas buatan.

"Tapi napasnya sudah ngorok terus berhenti. Waktu itu tidak boleh diangkat, jadinya petugas Masjidil Haram membawakan tandu, diangkut pakai kendaraan ke Haram Emergency Center 3. Lalu dinyatakan meninggal pukul 17.40," ujarnya.

Pada 22 Mei 2024 atau sehari sebelum wafatnya Enny Rodiyah, jemaah atas nama Muslim Ismail (50) juga mengalami hal serupa. Jemaah haji Kloter PDG-1 asal Embarkasi Padang tersebut dinyatakan wafat setelah pingsan saat tawaf.

Muslim terjatuh saat melaksanakan tawaf putaran ketujuh atau terakhir di Masjidil Haram pada pukul 04.00 WAS. Menurut informasi dari Khalirurrahman, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) PPIH Arab Saudi, almarhum wafat setelah terjatuh saat melaksanakan putaran tawaf ketujuh atau terakhir.

Tim kesehatan kloter dan tim emergency Masjidil Haram segera melakukan penanganan, namun almarhum tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 06.18 WAS di RS Azad Hospital.

Home 1 Banner

Mozaik Lainnya

Home 2 Banner