Dark
Light
Dark
Light

Usia dan Pancasila

Usia dan Pancasila

Berpikir tentang Pancasila pantas mengaitkan dengan usia. Di Medan, 11 Oktober 1975, Roeslan Abdul Gani berpidato dengan judul Pengembangan Pancasila di Indonesia. Ia memang menguraikan sejarah dan filsafat Pancasila tapi mengingatkan masalah usia. Pelaku sejarah itu mengingatkan: "… dewasa ini muncul generasi muda, dilahirkan sekitar proklamasi, kini berusia 25-30 tahun, dan yang sudah masanya tampil ke depan.” Pada masa 1970-an, tokoh sejarah itu mementingkan sosok berusia muda untuk turut menggerakkan dan memajukan Indonesia. Ia sadar berada di arus pembangunan nasional, bukan lagi revolusi.

Orang-orang sedang ribut masalah usia dan kekuasaan. Dulu, Roeslan Abdul Gani membuat hitungan-hitungan waktu kemunculan kaum muda dalam kancah politik nasional. Ia berharapan kemunculan mereka berpijak Pancasila. Misi-misi besar bisa diwujudkan saat tata kehidupan berubah, tak lagi seperti dulu. Ia mengungkapkan: “Mereka bebas dan tidak akan dikejar-kejar kalau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengibarkan sang saka merah putih. Mereka berkesempatan penuh memberikan dharma baktinya guna kemajuan nusa dan bangsa dengan menduduki jabatan-jabatan yang tertinggi dalam pemerintahan dan dalam masyarakat.” Kita diajak memikirkan usia dan Pancasila.

Sejak puluhan tahun lalu, Pancasila sudah diajarkan kepada bocah-bocah di TK dan SD. Mereka belajar Pancasila denga lagu, cerita, gambar, film, dan lain-lain. Usia pertumbuhan dibarengai pengenalan dan pengajajaran Pancasila. Kita menilai terjadi sejenis “indoktrinasi” disahkan oleh sekolah, keluarga, dan pelbagai institusi sosial. Mereka belajar Pancasila sampai dewasa dan menua. Pancasila tak menjamin mereka bakal berkuasa atau menjadi pejabat-pejabat. Usia memang berkaitan Pancasila tapi urusan sosok-sosok berusia muda tampil di kekuasaan itu pemenuhan janji-janji berbeda.

Di buku berjudul Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun untuk Pembudayaan (2018), Yudi Latif sengaja membuat uraian dan percakapan kepada para pembaca berusia dewasa. Pancasila ditafsirkan dengan referensi berbobot dari beragam pemikir dunia dan buku-buku babon berbahasa asing. Kita mengerti Pancasila terbaca megah. Yudi Latif mungkin menghendaki peninggian keseriusan dalam memahamkan Pancasila untuk publik.

Kita mengerti jika Pancasila di babak pidato dan pengesahan konstitusional berurusan dengan kaum dewasa. Mereka tampil sebagai penggerak dan pemikir Indonesia. Mereka pun terpilih menjadi presiden, menteri, gubernur, perdana menteri, dan lain-lain. Pancasila membarengi mereka saat dewasa tapi tanpa jaminan “dewasa” dalam berpolitik sering berkonflik di Indonesia, setelah 1945. Konon, mereka ingin mengarahkan kaum muda sebagai “pelanjut” tapi dengan indoktrinasi dan sengketa ideologi. Pancasila dan bimbang dan guncang sejarah saat rebutan kekuasaan terjadi seru atau mencipta seribu tanda seru. Lakon itu berlanjut setelah keruntuhan rezim Orde Baru (1998).

Di hadapan buku serius, Yudi Latif memberi rangsang renungan: “Pancasila dengan sesanti Bhinneka Tunggal Ika-nya bisa dikatakan sebagai kode genetik bangsa Indonesia. Ia merupakan cetakan dasar yang membentuk karakter bersama sebagau bangsa. Seperti halnya gen dan semesta organisme, autentisitasnya tidak selalu dapat dipertahankan. Tanpa penjagaan, perkembangannya bisa saja mengalami mutasi genetik, yang tidak niscaya berubah lebih unggul, malahan boleh jadi mengalami penuruan mutu (resesif).”

Pada 1958, Soekarno berceramah di kursus-kursus Pancasila. Ia berbagi cerita mengenai diri, sejarah, pendidikan, dan lain-lain. Soekarno tak cuma merujuk pidato 1 Juni 1945. Kita mengingat Soekarno sebagai remaja melalui pengisahan: “Permulaan abad sekarang ini, padahal waktu itu sudah tahun 1915, sebagai murid daripada sekolah rendah itu saja sudah diadjar ilmu ukur dengan meetketting, rantai ukur itu, kita murid-murid harus bisa mengukur halaman, mengukur sebidang tanah, tak lain tak bukan supaja nanti bisa mendjadi mandor ukur. Jadi, standar hidup diperendah sekali…” Soekarno saat remaja sudah bergumul dalam pemikiran-pemikiran besar dan mengerti nasib kaum terjajah. Pada masa berbeda saat dewasa, ia tampil untuk “mengukur” kekuasaan. Ia paham “ilmu ukur” revolusi. Babak itu kadang berlimpah slogan Pancasila tapi Indonesia merana.

Soekarno muda, Soekarno dengan segala pemikiran, seruan, dan gerakan. Ia mencapai perwujudan besar dinamakan Pancasila (1945). Sosok dewasa itu menggerakkan Pancasila berbarengan pemuliaan Indonesia setelah bercerai dari kolonialisme. Pancasila justru di kalangan dewasa diributkan dalam sengketa kekuasaan. Di kebijakan pendidikan dan politik, Pancasila lekas diajarkan kepada anak dan remaja. Siasat agar kisruh kaum dewasa atau tua tak diwariskan kepada anak dan remaja saat mereka memiliki kemungkinan menggerakkan Pancasila dengan gairah berbeda.

Pancasila pun berusia. Dulu, ada kebijakan membuat peringatan hari lahir Pancasila. Pada 1 Juni 1964, pemerintah mengadakan peringatan 19 tahun Pancasila. Soekarno memberi amanat mengandung rancu dan keanehan: “… sekarang ini saja diagung-agungkan, bukan sadja pada hari lahirnja Pantja Sila, nota bene jang kesembilan-belas, mengagung-agungkan kepada saja, tetapi djuga tahun ini, nanti Insja Allah tanggal 6 Djuni jang terkenal sebagai hari lahirnja Soekarno, orang mau mengadakan perajaan-perajaan jang maha hebat. Dari kanan, dari kiri, dari muka, dari belakang, dari mana-mana saja mendapat permintaan agar supaja saja suka menerima persembahan-persembahan pada hari nanti 6 Djuni 1964, persembahan jang berupa matjam-matjam hal.” Soekarno saat tua berada dalam hari-hari bersejarah berkaitan Pancasila, diri, dan kekuasaan.

Kini, usia Pancasila bertambah. Para pejabat tua masih berkuasa dengan kefasihan mengucap Pancasila. Di lakon berbeda, kaum muda bermunculan dalam arus kekuasaan menimbulkan debat-debat membara mengaitkan konstitusi, etika, politik, modal, dan lain-lain. Kita kadang berpikiran Pancasila mendingan diajarkan serius saat kaum tua dan kaum muda rebutan kekuasaan. Pancasila diajarkan untuk anak-anak wajib menguatkan hiburan dan kegembiraan agar mereka tak mewarisi rebutan kekuasaan. Begitu.  

Home 1 Banner

Mozaik Lainnya

Home 2 Banner