Dark
Light
Dark
Light

Haji: Ibadah dan Bahasa

Haji: Ibadah dan Bahasa

Di Indonesia, orang-orang biasa berucap “naik haji”. Di Jawa, orang mengatakan “munggah kaji”. Sekian orang malah mengatakan “mangkat ngulon” atau “berangkat ke barat”. Kita mengerti meski membuat imajinasi berubah, dari masa ke masa. Dulu, orang-orang menuju Tanah Suci dengan perjalanan tak mudah. Kapal menjadi terpenting. Pada masa berbeda, perjalanan itu menjelaskan peran pesawat terbang. Perubahan itu memunculkan “kloter” dimaksudkan “kelompok terbang”.

Kita jarang mendapat kata-kata mengarah dalam kesenangan atau hiburan berkaitan perjalanan ke tanah suci. Pengalaman atau peristiwa-peristiwa di sana biasa dipahami dalam pijakan iman. Perjalanan religius atau suci membuat orang dalam raihan makna selaku hamba. Kesan-kesan dari perjalanan memberi bobot saat orang-orang berucap menggunakan diksi “naik”, “munggah”, “mangkat”, atau “berangkat”.

Kita masih belum lengkap dalam memasalahkan kata-kata. Di buku berjudul Haji Bersama Quraish Shihab (1998), kita diajak memikirkan kata-kata sebelum ke pemaknaan mendalam berkaitan ibadah haji. Para pembaca mula-mula mungkin kaget tapi perlahan dapat membedakan dampak penggunaan kata-kata dalam bahasa Arab, Indonesia, Inggris, dan lokal.

Quraish Shihab menggunakan diksi wisata dalam tafsir atas firman Allah. Perintah termaktub dalam Al-Qur'an: “Berjalanlah di bumi dan lihatlah…” Pembaca mendapat penjelasan cukup memicu penasaran: “Bahkan, al sa’ihun (wisatawan) yang melakukan perjalanan dalam rangka memperoleh ‘ibrah (pelajaran dan pengajaran), dipuji oleh Al-Qur'an berbarengan pujian kepada orang-orang yang bertobat, mengabdi, memuji Allah, rukuk dan sujud, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta memelihara ketetapan-ketetapan Allah.”

Kita tergoda saat disodori diksi “wisata”. Di keseharian, wisata mengesankan peristiwa demi senang dan hiburan. Orang-orang pergi meninggalkan rumah menuju pantai, perbukitan, taman, atau air terjun. Di kamus-kamus, bepergian itu kadang memuat pamrih pengetahuan dan iman saat ditempelkan kata-kata lain. Sekian tahun terakhir, umat Islam mendapat pemaknaan imbuhan saat muncul “wisata religi(us)” atau “wisata spiritual”. Sekian sebutan terus bermunculan untuk menetapkan makna: alam, teknologi, ilmu, seni, dan lain-lain.

Quraish Shihab sadar, kemungkinan-kemungkinan kemunculan beragam tanggapan saat menggunakan diksi wisata telanjur dimengerti jutaan orang di Indonesia. Ia memerlukan merujuk tafsir-tafsir para pakar dalam membuat batas dalam arus pemaknaan. Rujukan dari penafsiran M Jamaluddin Al Qasimi (1866-1914): “… kitab suci memerintahkan manusia agar mengorbankan sebagian dari (masa) hidupnya untuk melakukan wisata dan perjalanan, agar ia dapat menemukan peninggalan-peninggalan lama, mengetahui kabar berita umat-umat terdahulu, agar semua itu dapat menjadi pelajaran dan ‘ibrah yang dengannya dapat diketuk dengan keras otak-otak yang beku.

Kita perlahan bergerak dalam kata-kata dan pelbagai pemaknaan. Quraish Shihab mengajukan wisata, berlanjut ke masalah ziarah dan haji. Tata cara penjelasan dimulai kata-kata itu membuat pembaca mengerti dalam beragam sisi. Quraish Shihab menerangkan: “Jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Dia memanggil mereka, dan mereka memperkenankannya. Mereka bermohon dan Dia mengabulkan permohonan mereka.” Di masalah haji, bepergian ke Tanah Suci, kita mulai mengenali sebutan “tamu”. Orang-orang berdatangan ke sana sebagai “tamu”, meski sebutan “wisatawan” atau “turis” masih mungkin berlaku.

Kita berganti ke buku bercorak akademik garapan Moeslim Abdurrahman berjudul Bersujud di Baitullah: Ibadah Haji, Mencari Kesalehan Hidup (2009). Ia mengamati pertumbuhan “kelas menengah” di Indonesia berkaitan Islam. Perkara menandakan “selera” dan “pamrih” diwujudkan oleh “kelas menengah” bertaut dengan ajaran-ajaran Islam. Amatan berlatar Indonesia akhir abad XX dan awal abad  XXI menonjolkan pertumbuhan usaha perjalanan haji turistik bergengsi. Kita mengenali sebagai “haji-plus”.

Moeslim Abdurrahman menjelaskan: “Perjalanan ibadah haji yang dijadikan paket pariwisata ditawarkan oleh agen-agen perjalanan wisata dalam beragam paket perjalanan wisata yang mewah, sebuah fenomena yang muncul bersamaan dengan bangkitnya industri turisme secara umum. Padahal, sebelumnya ibadah haji merupakan sebuah ritual keagamaan yang hampir seluruhnya dijalankan oleh kelas bawah perkotaan dan kaum tani kaya. Haji plus menjadi bagian penting dari legitimasi agama, sosial, dan politik para warga kota yang makmur.” Kita berpikiran lagi tentang wisata, ibadah, turis, ritual, dan lain-lain.

Pada masa Orde Baru, kita mengingat ikhtiar dan tampilan bagi “kelas menengah” mengalami perubahan-perubahan mengejutkan. Mereka ingin mengungkapkan keislaman dalam tata hidup mulai memberi janji kemakmuran. Angan-angan mendapat peran dan pemaknaan mulai limbung saat situasi ekonomi berubah drastis dalam tahun-tahun krisis. Kita menandai 1998. Indonesia terlalu berubah. Seruan demokrasi, kemakmuran, atau kemapanan mulai menjadi tanda seru menanti sikap dan jawab.

Kita mengingat pernah menjadi saksi atau penonton bisnis haji dan umrah. Di pinggir jalan dan ruang publik, baliho atau poster bermunculan dengan ajakan agar orang-orang umrah atau naik haji. Di baliho, kita melihat gambar orang-orang berbusana Muslim atau mengenakan ihram. Gambar-gambar khas dari Tanah Suci pun dicetak agar memicu imajinasi religius. Tawaran-tawaran itu dikuatkan dengan godaan “murah”, “hadiah”, “bonus”, dan lain-lain.

Kita masih ingat kemunculan para ulama atau artis dalam iklan. Penjelasan digunakan dalam iklan: “umrah bersama ulama terkenal atau artis kondang.” Foto-foto jamaah dan tokoh-tokoh itu makin membesarkan bisnis mengandung maksud religius dan turistik. Bisnis itu tak langgeng dipengaruhi pasang-surut situasi politik dan ekonomi.

Disertasi garapan Moeslim Abdurrahman mengingatkan sebutan “haji-plus” atau “ziarah turistik”. Kita dalam amatan atas model-model pemasaran tanah suci melalui iklan-iklan haji dan umrah. Ia merekam zaman: “Pada masa kapitalisme Orde Baru di Indonesia, haji turistik merupakan bagian dari gaya hidup kelas menengah dan atas. Ada tuntutan yang kuat untuk menjadi orang yang saleh. Banyaknya jamaah yang memenuhi tuntutan tersebut, industri haji menjadi usaha komersial yang baik.”

Pada abad XXI, kita mengetahui kata atau istilah berkaitan haji. Kita menerima dan membuat pengertian-pengertian saat dunia berubah gara-gara bisnis, alat transportasi, teknologi-uang, perhotelan, dan lain-lain. Penjelasan-penjelasan sederhana dari Quraish Shihab dan disertasi bertema haji dari Moeslim Abdurrahman menjadi rujukan saat kita ingin mengingat perkembangan “bahasa” dan pemaknaan haji, dari masa ke masa. Begitu.

Home 1 Banner

Mozaik Lainnya

Home 2 Banner