Dark
Light
Dark
Light

Fuad Hassan dan Mohamad Sobary: Dua Intelektual di Tanah Suci

Fuad Hassan dan Mohamad Sobary: Dua Intelektual di Tanah Suci

Buku tipis dan berpengaruh bagi kaum muda masa lalu: Berkenalan dengan Eksistensialisme (1976). Pada saat paham-paham filsafat Barat datang memberi pikat di Indonesia, Fuad Hassan sanggup menghadirkan buku pengantar bermutu. Orang-orang membaca buku bertema filsafat itu berlanjut menuju kepustakaan-kepustakaan babon dalam beragam bahasa.

Kita mengenang Fuad Hassan sebagai penulis dan intelektual yang menunaikan pengabdian di Universitas Indonesia. Ia rajin membuat tulisan-tulisan di majalah, membuktikan selera mendalami keilmuan dan seni. Pergaulannya bersama kaum intelektual dan seniman turut menggairahkan kesungguhan membuat buku-buku beragam tema. 

Pada suatu masa, ia justru bimbang dalam keputusan menulis buku. Pengakuan: “Cukup lama keraguan meliputi pikiran dan perasaan saya bersangkutan dengan penulisan naskah ini. Sungguh tidak terduga semula betapa sulitnya untuk memastikan perlu-tidaknya menuliskan pengalaman dan kesaksian perjalanan ibadah haji demi terbaca oleh khalayak ramai. Sekurang-kurangnya keraguan ini meliputi diri saya sebagai seorang yang sangat menyadari betapa jauhnya diri dari pengetahuan tentang agama dan betapa masih belum cukupnya hidup diresapi oleh amal-ibadah yang memadai.”

Ia tetap menulis, terbit menjadi buku berjudul Pengalaman Seorang Haji: Perlawatan ke Haramain (1975). Buku sederhana tapi mengesankan si penulis mendalami perkara-perkara keintelektualan. Pembaca bakal sering menemukan nama-nama filosof atau intelektual Barat ketimbang pencantuman nama-nama ulama di dunia Islam. Di halaman awal, Fuad Hassan mengutip pemikiran eksistensialisme dari Kierkegaard. Renungan-renungan filosofis mengiringi keputusan Fuad Hassan dan istri berangkat ke Tanah Suci.

Hari-hari menuju Tanah Suci mengungkap khilaf. Fuad Hassan mengisahkan: “Sudah lama saya tidak membolak-balik buku-buku agama. Saya pun sangat sadar betapa terlantar pengetahuan saya tentang agama, yang sejak kecil diresapkan ke dalam jiwanya oleh orangt ua maupun lingkungan sekitar di mana saya dibesarkan. Baru saya sadari betapa untuk waktu yang lama sekali saya telah mabuk ilmu pengetahuan duniawi ini, sejak saya menjadi mahasiswa sampai beralih mengasuh mahasiswa sebagai guru besar. Sambil melihat masa di belakang, saya menjadi sadar sekali, betapa banyak waktu saya curahkan dan tenaga saya kerahkan untuk menumpuk ilmu pengetahuan duniawi ini, dan betapa sedikitnya perhatian untuk menimba sebanyak mungkin pengetahuan tentang agama Islam yang saya yakini.”

Ia membuat renungan-renungan berlatar 1970-an. Indonesia makin meriah dengan pemikiran-pemikiran sering datang dari Barat. Pemajuan (mutu) pendidikan terjadi meski memusat di kota-kota besar. Penguasa sedang koar-koar mewujudkan pembangunan nasional dan demokrasi sedang disandiwarakan. Fuad Hassan sadar muncul pergolakan-pergolakan pemikiran di kalangan intelektual beragama Islam. Agama menjadi masalah saat terjadi pembesaran ide-ide baru. Sekian tokoh sanggup menanggapi pemikiran-pemikiran Barat sambil memajukan pengetahuan Islam. Pada masa 1970-an, Fuad Hassan belum tampil sebagai juru bicara keintelektualan dan keislaman. Penerbitan buku berjudul Pengalaman Seorang Haji menempatkan Fuad Hassan dalam kesadaran Islam dan pengetahuan-pengetahuan modern. 

Selama perjalanan dari Madinah menuju Mekah, Fuad Hassan membuat penilaian dan membuka ingatan saat kecil membaca novel-novel gubahan Karl May atau novel gubahan Honore de Balzac. Ia berbagi cerita: “Inilah padang pasir, inilah sahara. Ia punya corak yang khas. Tidak bisa dikatakan indah seperti alam kita yang serba hijau dan manis oleh liku-likunya sungai serta selingan bebukitan dan gunung maupun lembah-ngaranya. Dalam ukuran ini, sahara kehilangan artinya sebagai keindahan alam. Tetapi, tidak bisa disangkal bahwa alam ini tampil dengan wibawa yang disertai oleh kehebatan. Manusia merasa kecil di tengah-tengahnya. Di tengah padang pasir yang seolah-olah tanpa batas ini manusia pun merasa dirinya sesuatu butir saja.” 

Pada saat berada di Mekah, di depan Kabah, Fuad Hassan sadar belum serius dalam ibadah. Ia terus tergoda renungan-renungan berselera intelektual. “Saya belum cukup khusyuk menjalankan thawaf dan sa’i pada pertama kalinya,” pengakuan Fuad Hassan. Ia masih saja ingin menguak dan membuat renungan filosofis. Ia hadir sebagai hamba atau tamu Allah. Kesibukan keilmuan selama di tanah air tetap memberi dampak-dampak. Ia menjelaskan: “Kabah ini sekadar suatu pertanda, bukannya sesuatu yang harus disembah. Bangunan itu hanyalah pertanda kiblat. Tetapi, dibalik bentuknya yang sederhana itu tersimpan suatu sejarah…. Bangunan sederhana sehingga tidak menonjolkan aspek-aspek arsitektur yang menarik perhatian. Ia sekadar sebuah kubus terbuat dari batu dan diselubungi kiswah hitam.” Ia “terlena” dalam renungan. 

Pada masa berbeda, intelektual Indonesia pun berangkat ke Tanah Suci. Pulang dari sana, ia menulis buku kecil berjudul Tamu Allah (1996). Kita berganti mengikuti pengalaman dan renungan Mohamad Sobary. Publik sering membaca esai-esai buatan Mohamad Sobary tampil di puluhan koran dan majalah. Ia pun menggubah cerita-cerita anak. Sosok intelektual dengan citarasa kultural. Ia mengerti pemikiran-pemikiran Barat tapi sering mengajukan tafsir-tafsir berpijak “dakwah” kultural.

Ia dilanda ragu tapi berbeda dari Fuad Hassan. Renungan belum mengikutkan kepustakaan filsafat atau kesusastraan dunia. Mohammad Sobary berulang meragukan diri. Ia menceritakan: “Sebelumnya sudah sering saya menjadi tamu sebuah seminar meskipun tak diundang. Menjadi tamu gelap, sekadar ingin mendengarkan para bintang, para tokoh masyarakat, berbicara. Tapi di sini tak mungkin. Tuan rumah Maha Tahu. Tak mungkin ada tamu gelap. Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa saya juga tamu-Nya? Bagaimana bisa tahu bahwa saya pun diundang? Sukar sekali.” Sejak dari Indonesia sampai di Tanah Suci, ia terus meragukan diri tentang kepantasan sebagai tamu Allah.

Di Indonesia, Mohamad Sobary biasa diakrabi dengan tulisan-tulisan lucu. Di buku berjudul Tamu Allah, ia kadang cengengesan tapi lugu dalam renungan. Tiba di Mekah, ia memiliki pengalaman dan membuat penilaian:

“Terus terang, beberapa hari sebelumnya saya khawatir, jika memakai pakaian ihram bisa masuk angin… Lama-lama, dalam pakaian ihram itu malah terasa enak. Dalam tutupan kain putih yang sekadar diserempangkan itu saya merasa hidup tanpa beban. Dompet tidak ikut. Duit tidak perlu. Barang-barang dunia lainnya tidak memberati, tak membebani. Hidup terasa lepas, los, tanpa gandulan apapun.”

Ia mirip Fuad Hassan. Renungan-renungan lama khas intelektual tercipta selama berada di Tanah Suci. Ia menunaikan ibadah tapi masih tampil sebagai intelektual: tak cukup mengalami peristiwa. Renungan lagi: “Bila menghadap kepala negara – presiden, raja, perdana menteri – pakaian paling sopan dan lengkap ialah jas. Menghadap Allah malah cukup selembar kain putih. Tanpa embel-embel lain.” Ia perlahan mengerti kehadiran di Tanah Suci sebagai tamu Allah. Begitu.

Home 1 Banner

Khazanah Lainnya

Home 2 Banner