Dark
Light
Dark
Light

Kisah Ibnu Khafif dan Perjalanan Hajinya yang Ternodai Kesombongan

Kisah Ibnu Khafif dan Perjalanan Hajinya yang Ternodai Kesombongan

Syekh Abu Abdillah ibnu Khafif adalah tokoh sufi yang hidup sezaman dengan Imam Junaid Al-Baghdadi. Dikisahkan, saat musim haji tiba, Ibnu Khafif berangkat menuju Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima. 

Ketika sampai Baghdad, dalam benak Ibnu Khafif tumbuh butir kesombongan karena telah melakukan berbagai mujahadah dan tirakat, bahkan sampai tidak makan selama 40 hari. Kesombongan inilah yang membuatnya enggan menemui Imam Junaid Al-Baghdadi.

Saat melanjutkan perjalanan, Ibnu Khafif merasa kehausan. Pada saat yang sama ia melihat seekor rusa sedang minum di sebuah sumur. Tanpa berpikir panjang, Ibnu Khafif langsung menghampiri sumur tersebut. Sayangnya, ia tidak mendapatkan air sama sekali karena air itu habis diminum rusa. 

Dengan sedikit kecewa, Ibnu Khafif pun melanjutkan perjalanan sambil merenungkan peristiwa yang baru saja ia alami. 

Wahai Tuanku, hartaku di sisi-Mu telah berpindah ke rusa itu,” ucap Ibnu Khafif, sebagaimana diungkap oleh Isma’il Haqqi dalam kitab Ruhul Bayan, (Beirut, Darul Fikr: 2018), juz V, halaman 280-281.

Tidak lama kemudian, terdengar suara dari arah belakang Ibnu Khafif dan berkata:

Kami telah mengujimu dan kamu tidak sabar. Kembalilah ke sumur itu dan ambil airnya. Sesungguhnya rusa itu datang ke sumur tidak membawa kantong air dan tali. Sedangkan kamu membawa keduanya,"

Ibnu Khafif pun putar balik menuju sumur tadi. Benar saja, ternyata air dalam sumur itu jadi berlimpah. Tidak menunggu lama, ia pun segera memenuhi kantong air untuk minum dan bersuci sampai Madinah. Anehnya, air dalam kantong itu tidak pernah habis. 

Usai melaksanakan ibadah haji, Ibnu Khafif langsung pulang. Tidak seperti saat berangkat, ketika sampai Baghdad, Ibnu Khafif menemui Imam Junaid Al-Baghdadi. 

Andai saja dulu kamu bersabar sedikit lagi, air itu akan memancur dari bawah telapak kakimu,” ucap Imam Junaid Al-Baghdadi saat bertemu Ibnu Khafif.

Kisah ini mengandung hikmah yang bisa dipetik pelajarannya, terutama bagi jemaah haji yang akan atau sedang melaksanakan ibadah di Tanah Suci, yaitu bahwa haji tidak hanya ibadah yang membutuhkan pengorbanan fisik dan materi. 

Lebih dari itu, ibadah haji juga membutuhkan pengorbanan dan perjuangan membersihkan hati dari berbagai macam penyakit. Terutama penyakit sombong dan merasa diri lebih baik dari orang lain yang belum berhaji, atau merasa lebih baik dengan jemaah lain yang terlihat tidak semangat menjalani ritual haji. 

Kesombongan tidak akan membuat manusia menjadi mulia, justru dengan kesombonganlah manusia menjadi hina dalam pandangan Allah dan juga orang lain.

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan tentang pentingnya bersabar. Setiap umat Islam yang beriman tentu akan mengalami ujian. Ketika ujian itu dihadapi dengan penuh kesabaran, maka “mata air kebahagiaan” di tengah gersangnya kehidupan akan memancur untuk menghilangkan penderitaan dan menggantinya dengan kebahagiaan. Wallahu a’lam.

Home 1 Banner

Islami Lainnya

Home 2 Banner