Dark
Light
Dark
Light

Kisah Wanita Jarang Disentuh Suami yang Sibuk Beribadah

Kisah Wanita Jarang Disentuh Suami yang Sibuk Beribadah

Ketika Sayyidina Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia pernah didatangi seorang wanita yang mengadukan kehidupan rumah tangga sebab jarang disentuh oleh suaminya. Karena merasa malu, wanita tersebut menyampaikannya dengan bahasa Isyarat.

“Suamiku puasa di siang hari dan bangun di malam hari. Aku tidak suka mengadu kepadanya karena dia melakukan ketaatan kepada Allah," ucap wanita itu kepada Umar, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Adzkiya (Beirut: Daru Ihyail Ulum, 1990) halaman 267-268.

Umar pun mencoba menenangkan dengan mengucapkan bahwa wanita tersebut cukup beruntung karena mempunyai suami yang taat beragama. Seolah tidak puas dengan jawaban Umar, wanita tersebut mengulangi perkataannya dan Umar pun merespons dengan jawaban yang sama.

Ka‘ab Al-Asadi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mencoba memahami perkataan wanita ini.

"Wahai Amirul Mukminin, wanita ini sedang mengadukan suaminya yang jauh dari ranjang,"ucap Ka‘ab kepada Umar.

Karena kamu memahami maksud wanita ini, kata Umar kepada Ka‘ab, maka kamu saja yang memberi putusan untuk mereka berdua. Ka‘ab pun setuju dan meminta suami dan wanita ini menemui Ka‘ab.

Di hari berikutnya, pasangan suami istri ini mendatangi Ka‘ab. Ia pun langsung mengatakan kepada si suami bahwa wanita yang ada di sampingnya itu mengeluhkan perilakunya.

"Apakah tentang makanan ataukah minuman?" tanya si suami pada Ka'ab.

"Bukan," jawab Ka’ab

Tidak lama kemudian ketiga orang ini berbalas syair. Dalam syairnya, sang istri menyampaikan keluhan tentang suaminya yang sibuk beribadah hingga melupakan urusan ranjang.

Suaminya pun menjelaskan dengan syair juga. Dalam syairnya, ia mengutarakan alasannya bahwa ia sangat takut dengan ancaman dahsyat bagi orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah. Hal ini membuatnya sibuk beribadah hingga nyaris lupa pada ranjang istrinya. 

Melalui syairnya, Ka‘ab pun menjelaskan kepada laki-laki yang ada di hadapannya itu bahwa seorang istri mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suaminya.

Seorang laki-laki, kata Ka‘ab kepada si suami, dihalalkan menikah sampai memiliki 4 istri dan didatangi secara bergiliran. Karena kamu hanya punya satu istri, maka sehari semalam berikan waktumu untuk istrimu. Adapun waktu gilir 3 hari lainnya, gunakanlah waktu tersebut untuk beribadah kepada Allah. 

Pasangan suami istri ini kemudian mendapat pencerahan dan pulang dengan tenang. 

Usai keduanya pulang, Ka‘ab melaporkannya kepada Umar bin Khatab. Umar pun merasa kagum atas kebijaksanaan Ka‘ab hingga akhirnya Ka‘ab diangkat menjadi hakim di Bashrah.

Dari kisah ini bisa dipetik hikmah bahwa seorang suami tidak boleh melupakan tugas dan kewajibannya kepada istri. Jangan sampai kesibukan suami melalaikan hak-hak istri. Kesibukan karena ibadah langsung kepada Allah  (ibadah mahdlah) saja dianggap tidak proporsional, apalagi kesibukan yang bersifat duniawi.

Selain itu, dari kisah ini juga mendapat pelajaran bahwa ketika pasangan suami istri mempunyai permasalahan keluarga, sebaiknya keduanya membuka komunikasi untuk kemudian mencari solusi. Jika ternyata tidak menemukan jalan keluar, maka sebaiknya meminta pihak ketiga untuk memediasi. Wallahu a‘lam.

Home 1 Banner

Islami Lainnya

Home 2 Banner