Para sahabat Nabi memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT serta memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, demikian pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang khalifah yang juga menjadi menantu nabi.
Salah satu keistimewaan Sayyidina Ali terletak pada keilmuan yang beliau miliki, hingga beliau mendapat julukan khusus dari Rasulullah SAW, yaitu bab madinah al-ilmi (keluar-masuknya ilmu) dan bab madinah al-hikmah (keluar-masuknya hikmah). Hal ini sebagaimana dalam beberapa keterangan, sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِينَةَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ
Artinya: “Dari ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: aku kotanya (pusatnya) ilmu dan Ali pintunya, maka barang siapa yang ingin memasuki kota, hendak melalui pintunya”. (Abu Abdullah al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, Bairut, Darl al-Kutub al-‘Ilmiyah:1990, Juz 3, Halaman 147)
أنا دار الحكمة) وفي رواية أنا مدينة الحكمة (وعلي بابها) أي علي بن أبي طالب هو الباب الذي يدخل منه إلى الحكمة)
Artinya: “(Aku tempatnya hikmah) dalam satu riwayat: aku kotanya (pusatnya) hikmah (dan ‘Ali pintunya) yang dimaksud adalah ‘Ali bin Abi Thalib, beliau merupakan pintu untuk masuk menuju hikmah”. (Abdu ar-Rauf bin Taj al-‘Arifin, Faidul Qadir, Mesir, al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra:1356, Juz 3, Halaman 60).
Dari dua riwayat di atas menerangkan bahwa Sayyidina Ali memiliki kekhususan perihal ilmu dan hikmah, sehingga diberi julukan khusus oleh Rasulullah dengan sebutan bab madinah al-ilmi (keluar-masuknya ilmu) dan bab madinah al-hikmah (keluar-masuknya hikmah).
Hal tersebut terbukti, ketika Sayyidina Ali menghadapi kaum Yahudi yang mengajukan beberapa pertanyaan tingkat tinggi sekaligus menentang umat Islam, yang pada waktu itu dipimpin oleh khalifah Umar ibnu al-Khattab. Beberapa pertanyaan yang dilayangkan oleh kaum Yahudi juga merupakan pertaruhan nasib agama Islam pada waktu itu, bahwa ketika umat Islam tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan menohok yang disuguhkan, maka agama Islam dicap sebagai agama yang bathil (tidak benar), namun sebaliknya, jika beberapa pertanyaan yang dilayangkan mampu terpecahkan, maka kaum Yahudi akan mengakui agama Islam sebagai agama yang haq (benar).
لما ولى أمير المؤمنين عمر بن الخطاب الخلافة أتاه قوم من أحبار اليهود فقالوا له: يا عمر أنت ولي الأمر بعد محمد وصاحبه وإنا نريد أن نسألك عن خصال إن أخبرتنا بها علمنا أن الإسلام حق وأن محمدا كان نبيا، وإن لم تخبرنا بها علمنا أن الإسلام باطل، وأن محمدا لم يكن نبيا
Artinya: “Ketika sayyidina Umar bin al-Khattab menjadi khalifah (pemimpin umat Islam), beliau pernah didatangi oleh beberapa cendekiawan dari kaum Yahudi, yang kemudian berkata kepada sayyidina Umar: Wahai Umar kamu pemimpin Islam setelah Muhammad dan sahabatnya (sayyidina Abu Bakar), kami ingin bertanya beberapa hal kepada mu, jika kamu mampu menjawabnya, maka kami mengakui bahwa Islam adalah benar dan Muhammad adalah seorang nabi, namun jika kamu tidak mampu menjawab, maka kami akan mengatakan bahwa Islam bukan agama yang benar dan Muhammad bukan nabi”. (Abi Ishaq Ahmad bin Muhammad ibn Ibrahim an-Naisaburi At-tsa’labi, Qasas al-Anbiya’, Maktabah al-Jumhuriyah al-‘Arabiyah:tt, Halaman 466).
Dengan keberanian Sayyidina Umar, beliau menerima tantangan tersebut, sekali pun konsekuensinya sangat fatal, yaitu: agama Islam yang tidak akan diakui oleh kaum Yahudi sebagai agama yang benar, jika beberapa pertanyaan yang dilayangkan tidak mampu terjawab.
Sekurangnya ada 11 pertanyaan yang diajukan kaum Yahudi kepada sayyidina Umar dan rata-rata kurang masuk akal, sebagaimana dalam keterangan berikut:
“’Umar berkata: bertanyalah sesuka hati kalian! Kemudian kaum Yahudi bertanya beberapa hal:
1. Beri tahu kami tentang kunci penutup langit.
2. Beri tahu kami tentang kunci pembuka langit.
3. Beri tahu kami tentang sebuah kuburan yang bisa berjalan sendiri bersama mayyitnya.
4. Beri tahu kami tentang makhluk yang memperingatkan kaumnya, namun ia bukan dari bangsa jin dan manusia
5. Beri tahu kami tentang lima makhluk yang berada di bumi namun tidak terlahir dari rahim seorang ibu.
6. Beri tahu kami tentang apa yang diucapkan sebuah burung dalam pekikannya
7. Beri tahu kami tentang apa yang dikatakan ayam jago dalam lengkingannya
8. Beri tahu kami tentang apa yang dikatakan kuda dalam ringkikannya
9. Beri tahu kami tentang apa yang diucapkan keledai dalam ringkikannya
10. Beri tahu kami tentang apa yang yang dikatakan katak dalam keturannya
11. Beri tahu kami tentang apa yang dikatakan sejenis dalam siulannya?
(Sayyid Murtadho al-Fairuzabadi, Fadhoil al-Khomsah min as-Shihah as-Sittah, Mansyurot Fairuzabadi:1424, Juz 2, Halaman 326)
Sayyidina Umar kewalahan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dilayangkan oleh kaum Yahudi tersebut, hingga beliau memegang kepalanya dari sangat sulinya mencari jawaban. Dengan bijak sayyidina Umar mengatakan secara jujur bahwa beliau tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari kaum Yahudi. Sebagai konsekuensinya, kaum Yahudi seketika ‘menerkam’ sayyidina Umar dengan mengatakan: “Kalau begitu, kami bersaksi bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi dan Islam bukanlah agama yang benar”.
Pada waktu itu para sahabat yang membersamai Sayyidina Umar tidak terima dengan pernyataan yang disampaikan oleh kaum Yahudi. Akhirnya, salah satu sahabat yang bernama Salman al-Farisi meminta waktu kepada orang-orang Yahudi untuk memanggil sayyidina Ali, agar beberapa pertanyaan-pertanyaannya mampu dipecahkan.
Syahdan, datanglah sayyidina Ali yang seketika itu langsung dipeluk oleh sayyidina Umar dengan mengatakan: “Wahai Abu Hasan, engkau yang dalam setiap keadaan penuh dilema dan sangat genting selalu menjadi penolong”. Seketika itu, dengan kedalaman ilmu yang dimiliki sayyidina Ali, beliau langsung menantang kaum Yahudi dan menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi dari kaum Yahudi dengan syarat, jika beliau bisa menjawab pertanyaan kaum Yahudi dengan referensi kitab Taurat, maka mereka harus masuk Islam dan harus beriman. Kaum Yahudi menerima tantangan Sayyidina Ali.
Berikut semua jawaban dari sayyidina Ali:
- Kunci penutup langit adalah syirik kepada Allah, dengan alasan jika seorang hamba menyekutukan Allah, maka amalnya tidak akan terangkat ke langit (tidak diterima)
- Kunci pembuka langit adalah dua kalimat syahadat
- Kuburan yang bisa berjalan sendiri beserta mayyitnya ialah merupakan sebuah ikan paus yang menelan nabi Yunus, yang kemudian berjalan menuju laut yang tujuh
- Makhluk yang memperingatkan kaumnya dan ia bukan dari bangsa jin dan manusia adalah raja semut di masa nabi Sulaiman
- Lima makhluk yang bisa berjalan di atas bumi namun tidak terlahir dari sebuah rahim ibu adalah nabi Adam, Hawa’, unta betina di masa nabi Shalih, kambing di masa nabi Ibrahim dan tongkatnya nabi Musa.
- Yang diucapkan sebuah burung dalam pekikannya adalah “ar-Rahmanu ‘ala al-Arsyi Istawa”.
- Yang dikatakan ayam jago dalam lengkingannya ialah “Udzkuru Allah ya Ghafilin”
- Yang dikatakan kuda dalam ringkikannya adalah “Idza Masya al-Mukminun ila al-Kafirin - Allahumma Unshur ‘Ibadaka al-Mukminin ‘ala al-Kafirin”.
- Yang diucapkan keledai dalam ringkikannya ialah “La’ana Allah al-‘Ussyar wa Yanhaqu fi A’yuni as-Syathin”
- Yang dikatakan katak dalam keturannya adalah “Subhana Rabbi al-Ma’bud al-Musabbah fi Lujaja al-Bihar”
- Yang dikatakan sejenis burung dalam siulannya ialah “Allahumma Il’an Mubghidhi Muhammad waali Muhammad””.
(Abi Ishaq Ahmad bin Muhammad ibn Ibrahim an-Naisaburi At-tsa’labi, Qasas al-Anbiya’, Maktabah al-Jumhuriyah al-‘Arabiyah:tt, Halaman 467).
Seketika para cendekiawan kaum Yahudi, yang beranggotakan 3 orang, takjub akan kecerdasan sayyidina Ali dengan jawaban-jawaban jenius yang disuguhkan. Sebagai konsekuensinya, maka mereka mengucapkan kalimat syahadat dan seketika mereka beriman dan masuk Islam.
Musta’in Romli
Pengajar Ma'had Aly Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo