Dark
Light
Dark
Light

Obituari Dwianto Setyawan (1949-2024): Pengarang dan Pengamat

Obituari Dwianto Setyawan (1949-2024): Pengarang dan Pengamat

Oleh Bandung Mawardi
 
Pada masa lalu, kita memiliki daftar pengarang bacaan anak dan remaja bermutu di Indonesia: Arswendo Atmowiloto, Mansur Samin, K Usman, A Soeroto, Slamet Mashuri, Soekanto SA, Djokolelono, Dwianto Setyawan, dan lain-lain. Mereka menulis buku-buku digemari anak-anak dan para remaja melalui beragam penerbit: Balai Pustaka, Gramedia, Pustaka Jaya, Indra Press, Gaya Favorit Press, dan lain-lain. Sekian buku mereka kadang masuk daftar dari kebijakan negara melalui Inpres, diedarkan ke ribuan perpustakaan di seantero Indonesia.

Kini, ingatan nama dan buku itu makin merapuh. Dunia terlalu berubah. Kita mengamati kaum anak dan remaja tak lagi keranjingan dengan buku-buku. Salah dan khilaf bukan milik mereka saat mengalami hidup dalam kemanjaan teknologis dan godaan imajinasi mutakhir. Mereka tak diharuskan mewarisi buku-buku dari masa lalu. Nama-nama pengarang pernah meramaikan industri perbukuan anak dan remaja di Indonesia cukup tercatat dalam ensiklopedia dan leksikon. Kaum anak dan remaja masa sekarang memerlukan nama-nama baru jika masih menggandrungi buku.

Puluhan tahun lalu, orang-orang terpikat dengan serial “Imung” dan “Kiki” gubahan Arswendo Atmowiloto. Ingatan terkuat pun mengarah cerita berjudul “Keluarga Cemara”. Dulu, anak dan remaja menggemari serial “Keluarga Sirkus” dan “Pulung” garapan Slamet Mashuri atau Bung Smas. Kaum ingin bernostalgia mengetahui kemonceran serial “Astrid” persembahan Djokolelono. Serial masuk daftar ingatan bersama dari masa lalu tentu serial “Sersan Grung-Grung” dan “Sandi” gubahan Diwanto Setyawan. Pada 1 Juni 2024, Dwianto Setyawan pamit dari pembaca dan penikmat buku. Kepergian menghadap Tuhan saat urusan bacaan anak dan remaja di Indonesia masih bergelimang dilema.

Pada masa Orde Baru, ia tampil sebagai penulis rajin dan tangguh. Ia turut dalam perkembangan bacaan anak dan remaja dengan sokongan kebijakan pemerintah atau misi keaksaraan dari ratusan penerbit. Di majalah Femina, 9 Agustus 1983, kita mendapat keterangan tentang situasi buku anak dan remaja. Kita mengutip penjelasan untuk anak usia 9-12 tahun: “Biasanya mulai banyak ingin tahu. Mereka mulai senang dengan cerita-cerita petualangan dan sering asyik mengikuti tokoh utama yang disenanginya.”

Berlanjut untuk jenis bacaan usia 12-16 tahun: “Kalau dapat kita pilihkan agar novel-novel untuk remaja ini merupakan cerita yang penuh ajaran moral yang mudah diresapi tapi tidak serasa menggurui.” Buku-buku garapan Dwianto Setyawan hadir dalam kegemaran anak dan remaja membaca buku tapi “menggelisahkan” orangtua dan guru dalam turut menentukan jenis-jenis bacaan.

Di hadapan kita, ada dua buku lawas serial “Sersan Grung-Grung” berjudul Pala-Pala Motosep (1984) dan Rahasia Topeng Berkumis. Tampilan dua buku terbitan Gramedia itu mudah memikat pembaca. Buku berukuran kecil membuat anak dan remaja tak bakal lelah untuk khatam. Mereka justru bergairah membaca sambil menikmati bujukan dicantumkan di sampul belakang: “Pak Sersan dan keenam sahabatnya tentu tidak akan terlibat dalam penyidikan itu seandainya Ninung tidak melihat pencurian motor di muak apotek. Tetapi, Ninung melihatnya! Ia juga mengenali sedikit ciri-ciri penjahat itu.” Deretan kalimat penggoda cerita lekas membuat para pembaca ingin mengetahui cerita sampai rampung.

Dwianto Setyawan (12 Agustus 1949-1 Juni 2024) memang pernah melekat dengan Gramedia. Buku-buku penting dan mengesankan diterbitkan Gramedia meski ia pun menulis buku-buku untuk penerbit berbeda. Kita melihat lagi dua buku dalam serial “Sandi” berjudul Terlibat di Bromo (1985) dan Terlibat di Trowulan (1986). Buku-buku patut digemari gara-gara pengungkapan misteri-misteri. Jenis cerita memenuhi kaidah petualangan mendebarkan. Para pembaca pun belajar sejarah dan alam.

Pada 1997, Dwianto Setyawan berbagi pengalaman sebagai penulis dan pengamat perbukuan untuk anak dan remaja dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa: Bunga Rampai Sekitar Perbukuan di Indonesia. Ia memberi kritik: “Pada masa lalu, buku bacaan anak dianggap sebagai sarana pedagogi yang digunakan sebagai sarana pendukung pendidikan. Penekanan pada unsur didaktik sangat menonjol. Tujuan utamanya memang sangat mulia. Buku bacaan anak diharapkan lebih mengacu pada aspek penunjang atau membantu membentuk anak menjadi teladan seperti diinginkan masyarakat dewasa. Inilah yang mengakibatkan tudingan-tudingan miring bahwa banyak buku bacaan anak cenderung menjadikan anak sebagai miniatur orang dewasa, cenderung memberi instruksi dan menggurui.” Tuduhan itu benar bila meniliki ideologisasi oleh rezim Orde Baru dan kebijakan-kebijakan pendidikan masa lalu sebagai serangan tanda seru.

Kita mengingat Inpres buku diselenggarakan pemerintah pada masa 1970-an. Kebijakan menghasilkan ribuan judul buku setiap tahun tanpa jaminan mutu. Pemerintah menginginkan buku-buku dimasukkan ke sekolah-sekolah tapi kewalahan dalam penentuan mutu. Kebijakan memang mengesankan menguatkan misi-misi pembangunan nasional dan “membenarkan” sandiwara akbar buatan Soeharto.

Penjelasan kritis dari Dwianto Setyawan: “Proyek Inpres bacaan ini sempat menimbulkan pro dan kontra yang bergaung cukup lama. Akar masalahnya terletak pada kekhawatiran bahwa proyek yang melibatkan dana miliaran rupiah itu tidak akan mencapai sasaran yang tepat karena orang lalu tidak berusaha membuat buku bacaan anak-anak yang baik, tetapi hanya sekadar membuat buku. Tujuannya semata-mata ikut menikmati rezeki proyek yang sudah tampak di depan mata.” Sindiran mengarah sesama pengarang tampak “berpesta” dengan menulis puluhan atau ratusan buku berharap mendapat cap Inpres.

Kebijakan pemerintah dan situasi pasa buku menjadi latar bagi Dwianto Setyawan menulis cerita dijanjikan bermutu, tak kalah bersaing dengan buku-buku cerita terjemahan sangat digemari para anak dan remaja. Ikhtiar menulis cerita mengandung misteri atau petualangan berhadapan dengan kemonceran buku-buku terjemahan Enid Blyton. Pengarang-pengarang di Indonesia suguhkan cerita-cerita ingin dinikmati anak dan remaja agar tak mutlak berkiblat Amerika Serikat dan Eropa.

Pada 1980, Murti Bunanta mengingatkan: “Seseorang yang menganggap menulis untuk anak-anak itu mudah, sebaiknya tidak menjadi pengarang bacaan anak, apalagi tidak mencintai anak-anak. Sebaiknya juga seorang pengarang dapat terus menjaga dan meningkatkan kemampuan menulis, serta mau menengok dan membaca buku pengarang lain (luar negeri maupun lokal), tidak untuk meniru dan membuat cerita yang mirip, yang kebetulan sedang laku, tetapi untuk mendapatkan ilham baru dan segar.”

Sejak  1970-an dan 1980-an, Dwianto Setyawan serius dalam membuat cerita-cerita untuk dinikmati anak dan remaja. Ia perhatikan mutu, tak tergoda masalah “laku atau laris” dan memiliki kekhasan tanpa harus meniru selera Barat.

Kini, kita mengenang Dwianto Setyawan sambil mengumpulkan lagi ratusan buku pernah ditulis dan terbit, dari masa ke masa. Buku-buku itu memberi petunjuk mutu bagi kita saat masih mau memikirkan nasib anak dan remaja masa sekarang jika masih menggemari buku. Kita pun menanti sekian judul buku Dwianto Setyawan dicetak ulang atau dibahas kembali dalam jalinan nostalgia dan tanggapan zaman mutakhir. Begitu. 

Home 1 Banner

Human Lainnya

Home 2 Banner