Dark
Light
Dark
Light

Obituari Salim Said (1943-2024): Film, Pers, Kritik

Obituari Salim Said (1943-2024): Film, Pers, Kritik

Salim Said itu Tempo. Salim Said itu (kritik) film. Ia menjadikan jagat film ramai dengan tulisan dan ocehan. Film tak selesai sebagai tontonan. Dulu, para pembaca majalah Tempo sering menikmati tulisan-tulisan Salim Said. Di halaman-halaman masih hitam dan putih, film-film Indonesia mendapat perhatian: pujian atau kecaman. Salim Said tampil sebagai penulis resensi film atau kritikus film. 

Janet Steele dalam buku berjudul Wars Within (2007) mendapat keterangan-keterangan penting dari Salim Said. Kita membaca lagi untuk mengenang peran besar Salim Said dalam pers dan film. Hubungan erat para pendiri Tempo disampaikan: "Kami berteman, tidur seranjang ketika kami miskin, sebelum kami menikah." Pengisahan masa lalu Goenawan Mohamad dan Salim Said. Mereka menjadi petarung nasib berlatar 1970-an. Salim Said mengenang: "Saya adalah salah satu pendiri Tempo dalam makna harfiah. Saya naik skuter berkeliling kota untuk mendapatkan izi terbit pada 1970." Ia tak sekadar pendiri. Selama puluhan tahun, ia menjadikan Tempo itu referensi bagi penikmat atau pengamat film di Indonesia. Ia keranjingan menulis tentang film dalam pelbagai kondisi dan risiko.

Pada masa lalu, kita mengenal sosok tekun memasalahkan film: Asrul Sani. Ia tampil dengan tulisan-tulisan gampang menumbuhkan debat-debat. Di buku berjudul Surat-Surat Kepercayaan (1997), kita membaca dokumentasi tulisan-tulisan Asrul Sani. Pada 1981, Asrul Sani menerangkan: "… penonton merupakan orang yang lengang, berdiri sendiri, tidak lagi dilindungi dari segala macam polusi rohaniah dan kebudayaan. Satu-satunya yang dapat diandalkan ialah kemampuan kritisnya untuk memisahkan mana yang bermanfaat dan pantas untuk dinikmati dan mana yang harus dikesampingkan. Oleh karena itulah penting sekali fungsi kritik dan kritikus sebagai lampu suar penunjuk jalan di tengah-tengah kegalauan banjir tontonan yang menimpanya sehingga ia masih dapat menyelamatkan integritas dirinya."

Jumpah pembuatn film di Indonesia mendapat tepuk tangan. Masalah genting: mutu. Industri film di Indonesia mutlak membutuhkan kritik(us) film. Asrul Sani mengetahui dan mengamati perkembangan film, sejak masa 1950-an sampai 1990-an. Pada 1991, ia mendakwahkan: "Jika orang ingin membaca sejarah film di negeri kita, maka tidak ada jalan yang lebih baik dari pada membaca kritik-kritik yang dibuat oleh para kritikus film kita yang serius. Dan, dalam hal ini, Salim Said adalah seorang kritikus yang serius.” Pengakuan dan pujian diberikan atas ketekunan Salim Said dalam mengiringi pasang-surut perkembangan film Indonesia melalui tulisan-tulisan.

Persembahan atau warisan penting dari Salim Said: Profil Dunia Film Indonesia (1982). Buku bersampul warna biru, tipis dan sederhana. Buku itu sulit dibuat orang-orang tanpa kesanggupan membuat studi dan pergaulan dalam perfilman di Indonesia. Buku diterbitkan berasal dari skrispi. Salim Said sibuk dalam pers tapi bergairah dalam studi. Ia justru merasakan tantangan-tantangan besar dalam dunia akademik. 
Buku membuktikan kepekaan atas sejarah film dan kematangan Salim Said sebagai kritikus film. Hasil pengamatan: “… maka mula-mula yang dibutuhkan oleh produser-produser itu sebenarnya adalah seorang penulis skenario. Tapi kenyataannya menunjukkan bahwa yang dilakukan oleh para penulis skenario kita tidaklah lebih dari serentetan usaha untuk terus mencoba menuliskan segala hal yang diinginkan produser.” Kita membaca ketegangan dan keselerasan kepentingan-kepentingan produser dan penulis skenario. Keributan lazim terjadi. Semua itu menentukan mutu film di Indonesia mengingat pamrih komersial atau mutu cerita.

Keterangan itu masih berlaku sampai sekarang. Konon, mutu remuk dan rendah perfilman kita gara-gara kekuasaan para produser. Sadar labar dan pembentukan selera pasar membuat mereka mudah memerintah dan mendikte untuk kemunculan skenario-skenario tak bermutu tapi mampu menerbitkan penasaran ribuan penonton. Patokan laris dipentingkan dalam perhitungan untung-rugi. Para “penggerutu” makin senewen saat mengetahui industri film di Indonesia abad XXI melulu jumlah penonton dan raihan pendapatan.

Pesan bijak dari Salim Said berkaitan industri film masa Orde Baru: "… jika berbicara mengenai perubahan struktur perfilman, maka yang terutama akan memainkan peranan penting adalah pemerintah. Selain karena perubahan itu memang mempunyai konsekuensi keuangan yang cukup besar, ia juga menyangkut akibat-akibat sosial, budaya, dan politik yang luas, yang cuma pemerintah yang bisa memegang peranan utama di san.” Kita membaca pesan bijak itu ejekan kepada pemerintah atau “perintah” agar pemerintah becus dan bertanggung jawab.

Pada masa tua, Salim Said tak melanjutkan lagi kesibukan mengurusi film. Ia malah menekuni politik dan militer, berpijak latar belakang akademik. Kita tetap menempatkan Salim Said sebagai kritikus film penting di Indonesia. Warisan belum tertandingi itu berjudul Pantulan Layar Putih (1991). Buku bernuansa hitam mungkin mengabarkan ibarat nasib perfilman Indonesia mengalami bobrok, murung, sesat, linglung, dan kacau dalam keangkuhan rezim Orde Baru. Buku memuat tulisan-tulisan dihasilkan selama puluhan tahun.

Pada 1975, Salim Said memberi kelakar pedas mengenai perfilman dan pertumbuhan penerbitan pers di Indonesia: “Maka yang umum pada sebuah koran adalah cuma seorang reporter film, bukan kritikus film. Kadang-kadang ada juga mereka menulis semacam kritik, tetapi yang mereka hasilkan adalah sinopsis yang diakhiri dengan sedikit pujian atau celaan yang tidak selalu jelas alasannya.” Ia mengerti peran lembaran-lembaran di koran, tabloid, dan majalah turut menentukan makna dan dampak (industri) film di Indonesia.

Berlatar masa 1970-an, Salim Said memberi pengakuan agak sombong tapi keharusan saat terlibat dalam perfilman dengan menjadi penulis kritik. Ia mengatakan: “… sepanjang sejarahnya, film di negeri ini selalu berada di tangan pedagang yang bahkan kadang-kadang kurang profesional. Nah, untuk menyelamatkannya, perlu banyak orang yang melibatkan diri, dan tidak cuma mengeluh dan mencemoohkan di pinggir lapangan.” Ia pun hadir dengan kritik-kritik. 

Tulisan-tulisan masa lalu dibuat Salim Said terbaca lagi saat “tepuk tangan” dan “siulan” diberikan untuk industri film Indonesia mutakhir. Salim Said sebelum menutup mata mungkin masih sempat mengamati meski tak mengharuskan lagi sebagai kritikus film. Sosok itu pamit dengan memberi warisan mengandung pengakuan dan peringatan. Bermula dari tulisan-tulisan Salim Said (10 November 1943-18 Mei 2024) kita justru mengerti perfilman Indonesia, dari masa ke masa. Begitu. 

Home 1 Banner

Human Lainnya

Home 2 Banner