Dark
Light
Dark
Light

UIN Satu Tulungagung dan Proposal Peradaban

UIN Satu Tulungagung dan Proposal Peradaban

Semenjak beralih status dari IAIN ke UIN, kampus UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN Satu) Tulungagung terus berbenah. Terhitung sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2021 tentang Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada tanggal 11 Mei 2021, kampus yang berada di kabupaten pesisir selatan Jawa Timur ini tak tinggal diam.

Berada di daerah Mataraman yang diapit oleh beberapa kampus negeri dan swasta, menjadikan kampus ini masuk dalam kategori tak mudah. Bagaimana tidak, secara geografis, UIN Satu Tulungagung tidak sesetrategis Kediri misalnya, yang sekarang sudah mulai beropreasi airport bertaraf domestik dan internasional. Atau jika agak bergeser ke daerah timur—Malang misalnya—kampus UIN Satu juga dikepung oleh banyak lembaga pendidikan tinggi bereputasi.

Namun meski begitu, UIN Satu Tulungagung tetap optimis dalam mewujudkan visinya sebagai kampus yang transformatif, inovatif, kompetitif, dan unggul berjiwa Islam rahmatan lil alamin. 

Hal demikian bisa dibuktikan dengan berbagai fakta misalnya UIN Satu Tulungagung pernah meraih prestasi sebagai PTKIN dengan jumlah pendaftar jalur UM-PTKIN terbanyak tahun 2020. Sedangkan pada tahun 2021 juga tak kalah membanggakan. UIN Satu Tulungagung berada di urutan keenam dalam  10 PTKIN Terbaik versi Webometrics.

Di bidang non-akademik juga banyak prestasi tingkat nasional yang pernah ditorehkan oleh kampus yang belum lama bertransformasi menjadi universitas itu. Anda dapat mengakses informasi prestasi-prestasi tersebut melalui tautan ini.

Setelah Melewati Setengah Abad
Usia UIN Satu Tulungagung boleh jadi masih sangat belia. Namun rintisan dan pondasi keilmuannya sudah lama kokoh berdiri. Lebih dari lima puluh tahun, kampus ini sudah mendedikasikan diri untuk ikut mendidik anak bangsa. 

Usia setengah abad jika dibandingkan dengan kampus-kampus besar dunia mungkin memang belum seberapa. Taruhlah seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) USA (1861), Harvard University (1636) USA, dan Stanford University (1885) USA, sebagai contohnya. Tiga kampus beken di Amerika inilah yang sekarang menduduki peringkat tiga teratas dunia versi Unirank 2024. 

Jika ditarik kesimpulan, rata-rata mereka telah berusia lebih dari satu abad atau bahkan ada yang hampir empat abad lamanya. Dengan kata lain, tak ada proses instan untuk menjadikan sebuah lembaga pendidikan tinggi menjadi world class university. 

Lantas apakah usia selalu menjadi tolok ukur utama sebuah kemajuan? Tentu saja tidak! Kematangan usia memang tak selalu selaras dengan misalnya kematangan berpikir. Namun setidaknya, kematangan usia telah memberikan banyak pengalaman berharga yang tak bisa disulap secara bim salabim belaka.

Menuju Kampus Peradaban
Lema “peradaban” (civilization) di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai “kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) secara lahir batin.” Ia juga diartikan sebagai hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. 

Jadi jika dikaitkan dengan agama maka peradaban Islam merupakan manifestasi dari nilai-nilai spiritual, intelektual, dan fisik dalam masyarakat yang terbentuk berdasarkan prinsip-prinsip Islam. 

Hal demikian mencakup segala aspek kehidupan, dari ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, hingga sistem sosial dan hukum, yang semuanya terintegrasi dalam kerangka keimanan kepada Allah.

Maka menjadi tak aneh jika UIN Satu Tulungagung mendaku dirinya sebagai “kampus dakwah dan peradaban.” Sebab hal demikian menjadi semacam kalimatun sawa (titik temu) antara misi “dakwah” dan “kemajuan” dalam konteks peradaban Islam. 

UIN Satu Tulungagung dalam hal ini, masih meyakini bahwa kemajuan peradaban Islam itu bukanlah sebatas isapan jempol belaka. Jika Anda pernah membaca sejarah peradaban Islam, tentu narasi tentang Islam pernah menjadi mercusuar peradaban dunia sangat mudah kita temui. 

Banyak ilmuwan yang mengafirmasi hal ini, salah satunya Seyyed Hossein Nasr. Dalam Science and Civilization in Islam (2001), ia coba menggali sejarah dan kontribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. 

Nasr berargumen bahwa Islam tak hanya menerima warisan Yunani kuno dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga mengembangkannya dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi peradaban manusia, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, kedokteran, fisika, dan kimia.

Salah satu aspek yang ditonjolkan oleh Nasr adalah pentingnya filosofi dalam pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Dia menunjukkan bagaimana pemikiran filosofis Islam, terutama yang dipengaruhi oleh filsuf seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes), membantu membentuk metodologi ilmiah yang kemudian diadopsi oleh ilmuwan Barat.

Namun bukankah itu tak lebih dari romantisme sejarah lantaran faktanya peradaban Islam saat ini menjadi second class di bawah Barat. Ya, tapi bukankah selalu ada perubahan besar yang terjadi di setiap abad yang dilalui dalam perjalanan panjang sejarah manusia? Begitu kata Ian Mortimer—sejarawan sekaligus penulis buku Centuries of Change (Muhammad, 2023). 

Cepat atau lambat, setiap peradaban akan mengalami masa pasang surut (the rise and fall of civilization). Misalnya, dengan dimotori Jepang, beberapa negara Asia kini berubah menjadi Macan Asia, sekalipun dengan model politik yang otoriter dan berbeda dengan demokrasi liberal Barat. Pergerakan maju ini kini masih berlangsung dengan China sebagai motor utamanya. Bisa jadi Indonesia juga akan menjadi tokoh utama selanjutnya. 

Sustainability, Inclusive, dan Partnership (SIP)
Jika Harvard University mengusung slogan “The World Under Our Feet” maka UIN Satu Tulungagung juga punya istilah yang tak kalah menarik: Sustainability, Inclusive, dan Partnership yang disingkat “SIP”. 

Ketiga istilah itu merupakan satu kesinambungan yang memiliki makna mendalam. Secara konseptual, keberlangsungan (sustainability) hanya akan terwujud jika ditopang oleh keterbukaan (inclusive) dan kerja sama (partnership). Keterbukaan yang dimaksud di sini tentu saja yang utama adalah pikiran. 

Keterbukaan pikiran inilah yang nantinya akan membentuk suatu sikap terbuka terhadap “kebaruan-kebaruan” dan “kenakalan ide” dari segenap civitas akademika. Dan muara keberhasilan dari itu semua tentu saja terletak pada sejauhmana “warga kampus” mampu bekerjasama, baik eksternal maupun internal. 

Lagipula slogan “The World Under Our Feet” Harvard juga tampak terlalu arogan. Meskipun sah saja mereka mangklaim hal itu. Namun satu yang dilupa bahwa sejak manusia mengenal filsafat alam sampai perkembangan sains seperti sekarang, manusia tak pernah mampu “menundukkan dunia” seutuhnya. 

Manusia hanya mampu menyingkap sedikit saja “misteri dunia” melalui apa yang disebut sebagai metode ilmiah (scientific method). Itupun belakangan mereka sadari bahwa model Dualisme Cartesian—memosisikan manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek—juga tak sepenuhnya benar. 

Akibatnya, manusia modern akan selalu tersentak kaget ketika menemui fenomena yang belum pernah bisa mereka jelaskan menggunakan kacamata ilmu pengetahuan maupun sains.

Lebih dari itu, di tengah melubernya arus informasi (information spill over), kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi tentu saja tak bisa menghindarinya. Sebab hal demikian menjadi bagian dari perubahan dan perubahan merupakan keniscayaan. Lalu apakah kampus harus membebek sepenuhnya dengan perkembangan teknologi-informasi? Tentu saja tidak! 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut lebih lanjut, ada baiknya kita menilik kepada konsepsi dari salah satu filsuf Australia bernama David Chalmers. Dalam bukunya, Reality+: Virtual Worlds and The Problems of Philosophy (2022) ia menawarkan term yang menarik: teknofilsafat (technophilosophy). 

Ia dalam buku tersebut berangkat dari suatu tesis pokok: “virtual reality is genuine reality.” Artinya kurang lebih bahwa apa yang terjadi di dunia maya atau virtual itu bukanlah ilusi. Dan apa pun yang terjadi di dalamnya dan obyek yang berinteraksi dengan kita semuanya nyata. 

Dengan kata lain, Chalmers sesungguhnya ingin mengatakan bahwa manusia sekarang tak bisa lepas dari “jerat” teknologi-informasi. Namun bukan berarti bahwa kemajuan teknologi-informasi selalu membawa keburukan ataupun kebaikan. Teknologi baginya merupakan sesuatu yang bebas nilai.

Oleh karena itu, ia menyebut bahwa teknofilsafat adalah kombinasi dari mengajukan pertanyaan filosofis tentang teknologi dan menggunakan teknologi untuk menjawab pertanyaan filosofis. Bedanya dengan filsafat teknologi adalah terletak pada interaksi dua arah antara filsafat dan teknologi. Teknofilsafat berada di tengah antara ruang pesimistis dan optimistis.

Dalam konteks inilah, menurut hemat penulis kampus berada. Kampus tak harus anti terhadap perkembangan teknologi-informasi tapi juga tak lantas overdosis dan latah dalam mengikuti perkembangannya. 

Sebab untuk menjadi kampus peradaban dibutuhkan keberlangsungan, keterbukaan dan kerjasama. Dan untuk menopang itu semua, peran teknologi dan filosofi menjadi unsur fundamental adanya.

Saiful Mustofa adalah direktur Diskursus Institute dan Dosen di UIN Satu Tulungagung.

Home 1 Banner

Edukasi Lainnya

Home 2 Banner